Monday, March 23, 2009

RENUNGAN BUAT KITA

Cerita ini sudah dipakai dari jaman dahulu kala oleh berbagai tradisi spiritual maupun kebudayaan untuk menyampaikan nilai-nilai, menerangkan pengajaran, serta membuka sudut pandang yang berbeda.Walaupun lahir di daerah geografis dan budaya yang beraneka, cerita-cerita Tao, Zen, Sufi, dan lain-lainnya memiliki banyak kemiripan baik dalam kandungan nilai, kekritisan, atau kekuatan dari semacam "daya dorong" yang dimilikinya.Coba saja mengganti nama tokoh cerita dari cerita Zen dengan nama dari tanah Baghdad atau India, atau sebaliknya, maka orang tidak akan dapat membedakan mana cerita dari ranah Tao, Sufi, Zen, atau yang lainnya.Demikian pula sebaliknya.Sebuah cerita akan bisa bermakna berbeda seiring perkembangan masa, dan pengalaman hidup yang bertambah. Dalam pembacaan ulang sebuah cerita yang dulunya biasa-biasa saja ternyata menohok diri kita, yang menunjukkan betapa ego sentris dan tidak pekanya kita dulu (hingga sekarang), yang dulu sulit dimengerti bisa jadi lebih terang, atau bahkan yang dulu begitu memberi daya dorong bisa terbaca pahit di tengah kekelaman arus gelap yang tengah menghanyutkan kita pelan-pelan namun ternyata telah begitu jauh. Ia juga terkadang ringan, bersifat kelakar, tapi cerdas. Bagi yang ingin memberikan donasi "cerita"nya baik berupa penceritaan ulang, terjemahan, atau saduran atas cerita tradisional maupun modern atau mungkin saja cerita orijinal karya sendiri Selamat menikmati.

SANG CENDIKIAWAN
Mullah Nasrudin mendapatkan pekerjaan sebagai tukang perahu. Suatu hari, ia menyeberangkan seorang cendikiawan, orang itu bertanya kepada Nasrudin: - Tahukah kamu tata bahasa? - Tidak, sama sekali tidak - jawab Nasrudin - Ah, maaf ijinkan saya berkata bahwa anda telah kehilangan separuh dari hidup anda - sahut sang cendikiawan sambil mengernyitkan kening. Beberapa lama kemudian angin bertiup kencang dan perahu terombang-ambingkan oleh gelombang. Sesaat sebelum perahu tenggelam, sang Mullah bertanya kepada penumpang itu : - Anda bisa berenang? - Tidak! - aku sang cendikiawan, ketakutan. - Ah, Maaf kalau begitu ijinkan saya berkata, anda akan kehilangan seluruh hidup anda! Disadur dari El eruditoCuentos del Mulla Nasruddin por Idries Shah

KAMU BUKAN CHUANG TZU
Suatu hari Chuang Tzu dan temannya jalan-jalan menyusuri tepian sebuah sungai. " Lihat ikan-ikan yang sedang berenang itu, " kata Chuang Tzu, "Mereka sedang bergembira ria." "Kamu bukan ikan," sahut temannya, " Jadi kamu tidak bisa benar-benar tahu kalau mereka sedang bergembira atau tidak." "Kamu bukan aku. " kata Chuang Tzu, " Jadi bagaimana kamu bisa tahu kalau aku tidak tahu bahwa ikan-ikan itu sedang bergembira?" disadur dari www.rider.edu/~suler/zenstoryke indeks

KALIGRAFI ZEN
Seorang laki-laki kaya meminta seorang guru Zen untuk menulis sesuatu yang dapat mendorong kesejahteraan keluarganya hingga bertahun-tahun kemudian. Sesuatu yang bisa dinikmati oleh keluarga itu dari generasi ke generasi. Di atas selembar kertas besar, sang guru menulis, "Ayah mati, anak mati, cucu mati." Si orang kaya menjadi marah melihat karya kaligrafi sang guru. "Aku suruh kamu menulis sesuatu yang dapat membawa kebahagiaan dan kesejahteraan kepada keluargaku. Kenapa kamu menulis hal yang menyedihkan seperti ini?" "Jika anakmu meninggal sebelum kamu,"jawab sang guru, "ini akan menyebabkan kesedihan yang tak terperikan di keluargamu. Jika cucumu meninggal sebelum anakmu, ini juga akan menimbulkan kesedihan yang mendalam. Jika keluargamu, dari generasi ke generasi, berpulang dengan urutan seperti yang kuterangkan, inilah rangkaian hidup yang alami. Inilah kebahagiaan dan kesejahteraan yang sesungguhnya. disadur dari www.rider.edu/~suler/zenstoryke indeks

SI PANDIR KOTA BESAR
Ada berbagai macam keterjagaan, namun hanya satu belaka yang benar. Manusia tertidur tapi ia harus terjaga (dari kantuknya), ia harus bangun dengan cara yang baik. Berikut ini sebuah cerita tentang seorang pandir yang keterjagaannya tidak patut. Suatu hari, seorang pandir yang naik kereta angkutan tiba di sebuah kota besar dan terjebak dalam keramaian jalanan. Karena merasa takut, ia memutuskan untuk tidur, tidak mau lagi mendapati dirinya berada di antara kehirukpikukan semacam itu yang membuatnya merasa tertekan. Sebelum tidur ia mengikatkan sebuah pita di kakinya sebagai tanda pengenal. Seorang lelaki nakal iseng yang memahami maksud dari apa yang dilakukan si pandir, menunggu hingga ia tertidur untuk kemudian melepaskan pita itu dan mengikatkannya di kakinya sendiri. Kemudian si jahil sendiri lalu tidur di lantai kereta yang sama. Si pandir bangun terlebih dahulu, melihat pita itu, lalu berpikir, "Mungkin orang itu adalah aku", lalu ia menghambur ke arahnya sambil berteriak , " Jika kamu adalah aku, lalu aku ini siapa?

DIRI SEJATI
Seorang murid muda yang ragu bertanya kepada Gurunya," Guru siapakah diriku yang sejati?". Sang Guru menjawab," Tentu saja kamu adalah Tao dan Tao adalah kamu?" "Tapi Guru, Tao Maha Agung sedang aku tidak berarti, Tao Maha Perkasa tapi tenagaku terbatas," sahut sang murid. Sang Guru tua tidak langsung menjawab, ia mengangsurkan sebuah mangkok kepada muridnya dan berkata,"Bawalah mangkok ini ke sungai dan kemudian bawakan aku air dari sungai itu!" Sang murid bergegas ke sungai terdekat dan beberapa lama kemudian kembali dengan semangkok penuh air .Sang Guru menerima air itu dan bertanya,"Apakah ini benar air dari sungai? Ia tak tampak demikian bagiku." "Benar Guru, ini air sungai," jawab si pemuda. "Aku begitu mengenal sungai itu, tapi air ini tidak nampak seperti air sungai yang kukenal. Aku tak melihat bayangan binatang-binatang yang sedang minum di permukaannya, tidak ada anak-anak kecil yang berenang riang, dan ikan-ikan yang berenang di bawa kebeningannya." " Mungkin..mungkin itu karena airnya sedikit, " jawab pemuda itu lirih. "Sekarang kalau air ini benar-benar dari sungai kembalikanlah air ini ke sungai itu lagi!" suruh sang Guru. Sang murid yang patuh kemudian pergi ke sungai lagi dan beberapa lama kemudian kembali dengan mangkok kosong.Sang Guru kemudian berkata, "Tentunya engkau akan terus menjawab bahwa air dalam mangkok ini sama dengan air sungai berapa kalipun kamu ditanya. Ini karena kamu yakin benar bahwa air dalam mangkok ini tadi berasal dari sungai. Tapi air dalam mangkok tidak nampak seperti air sungai bagiku. Demikian pula dengan Tao, Tao ada di dalam ragamu seperti air sungai di dalam mangkok. Kamu berasal dari Tao, dan kamu akan menyadari dirimu yang sejati jika engkau telah kembali menyatu dengan-Nya seperti air dalam mangkok yang tak dapat dibedakan dengan air sungai setelah menyatu lagi dengan air sungai.

SETONGKOL JAGUNG YANG TERLUPAKAN
Cerita Suku Indian Sioux Amerika Diceritakan kembali oleh Marie L. McLaughlin in "Myths and Legends of the Sioux" ; 1913.
Seorang perempuan Arikara sedang mengumpulkan jagung dari ladang untuk disimpan guna cadangan musim dingin, Ia beringsut dari batang ke batang, memetik tongkol-tongkol jagung dan menjatuhkannya ke atas rok panjangnya yang dilipat.Ketika semuanya telah terkumpul dan ia hendak beranjak pergi, ia mendengar suara merintih, seperti suara seorang bocah yang menangis dan memanggil-manggil : "Oh, jangan tinggal aku! Jangan pergi tanpa aku.”Wanita itu terheran-heran. “Anak macam mana pula itu?,” bathinnya. “Anak siapakah yang tersesat di kebun jagung?” Ia melepaskan ikatan rok panjangnya di mana ia menaruh jagungnya, dan berbalik untuk melakukan pencarian; namun ia tak menemukan apapun. Ketika ia hendak pergi didengarnya lagi suara itu,” Oh, jangan tinggal aku. Jangan pergi tanpa aku.”Ia mencari cukup lama. Pada akhirnya, di sesudut ladang, tersembunyi di balik daun-daun batang jagung, ia menemukan setongkol jagung kecil.Tongkol inilah yang tadi menangis, meratap-ratap. Semenjak peristiwa itu semua perempuan Indian kemudian memelihara ladang jagungnya dengan sangat hati-hati, sehingga tidak ada sebiji hasil pangan pun yang terlupakan atau terbuang, dan membuat kecewa sang Misteri Agung. Disadur dari www.earthbow.com/nativeke indeks

TRANSFORMASI
Suatu kali, aku, Chuang Tzu, bermimpi bahwa aku adalah seekor kupu-kupu yang terbang kesana-kemari, serasa seperti benar-benar seekor kupu-kupu. Aku hanya menyadari kebahagiaanku sebagai seekor kupu-kupu, tidak sadar bahwa aku Tzu. Begitu terjaga, begini ini adanya, menjadi diriku lagi. Sekarang aku tak tahu apakah aku tadi seorang manusia yang bermimpi menjadi kupu-kupu, atau apakah aku sekarang ini adalah seekor kupu-kupu yang sedang bermimpi jadi manusia. Antara kupu-kupu dan manusia ada sebuah perbedaan. Transisinya disebut “transformasi dari hal-hal material”.Catatan : Transformasi dari hal-hal material adalah sebuah gagasan Chuang Tzu yang kerap muncul; bahwa segala sesuatu selalu berada dalam aliran (“flow”) yang konstan dan selalu berubah tapi senantiasa merupakan aspek-aspek yang beraneka dari yang Satu.

DARWISH DAN PENJUDI
Alkisah, jaman dahulu kala hidup seorang darwish yang berkeyakinan bahwa ia bertugas untuk mendekati orang–orang yang melakukan perbutan tercela, menyadarkan dan mengarahkan mereka kepada pemikiran spiritual sehingga mereka bisa menempuh jalan kebenaran. Namun ada hal yang tidak dapahami sang darwish, bahwasanya seorang guru sejati tidak mengajarkan asas-asas yang tetap kepada setiap orang, karena seorang guru dapat saja memperoleh hasil yang bertolak belakang dari apa yang diinginkan jika ia tidak mengetahui apa yang ada di hati sang murid. Beginilah ceritanya, suatu hari sang darwish menemukan sesorang yang kecanduan berjudi dan tidak bisa menghentikan kebiasaannya ini. Darwish ini kemudian memutuskan untuk turun tangan dan mengawasi sang penjudi. Setiap penjudi kita ini pergi ke rumah judi, sang darwish meletakkan sebuah batu di depan rumah si penjudi untuk menandai dosa, dengan harapan nantinya batu-batu yang terus bertambah akan menjadi peringatan akan kejahatan. Demikianlah, setiap meninggalkan rumahnya untuk pergi berjudi, penjudi ini merasa bersalah, dan sepulangnya ke rumah, ia merasa lebih berdosa lagi melihat batu-batu itu semakin menggunung. Akan halnya sang Darwish, setiap menaruh batu dalam tumpukan, selain merasa geram juga merasakan semacam kepuasan pribadi -- sesuatu yang dianggapnya illahi--- ; mencatat dosa. Tak terasa proses ini berlangsung dua puluh tahun. Dan setiap penjudi ini bertemu sang darwish, ia merasa malu, dan membathin,” Akankah aku mengerti kebajikan. Betapa orang saleh itu telah bersusah payah untuk keinsyafanku. Kapan aku bisa bertobat, menjadi seperti dia. Aku yakin pastilah ia seorang ahli sorga.” Kemudian, ketika suatu hari ada bencana alam, kedua tokoh cerita kita ini tewas bersamaan harinya. Datanglah seorang malaikat menjemput si penjudi, dan berkata,” Mari pergi ke sorga bersamaku.” Penjudi ini kaget dan memprotes, “Ah, tak mungkin. Aku seorang pendosa dan harus pegi ke neraka. Pastilah kamu salah orang, harusnya kamu jemput darwish yang telah berusaha menginsyafkanku selam dua puluh tahun terakhir ini.” Akan tetapi, malaikat menjawab,”Sebaliknya, ia sekarang tengah diantar malaikat yang lain ke tempat yang lebih rendah. Neraka!” Sang penjudi malah beteriak marah, "Tidak adil. Bagaimana mungkin. Pastilah kalian telah memutarbalikkan perintah! "Tentu tidak,” jawab sang malaikat,” Begini ceritanya, darwish itu selama duluh puluh tahun diliputi oleh rasa superioritas dan rasa berjasa. Selama itu pula ia tidak menumpuk batu untukmu, tapi sesungguhnya untuk dirinya sendiri. Dan sekarang ia harus menerima buahnya. "Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan pahala?” tanya sang penjudi. "Engkau mendapatkan pahala karena setiap bersua darwish itu, engkau memikirkan kebajikan, dan berbaik sangka kepada darwish itu. Kebajikanlah yang sekarang memberikan pahalanya kepadamu."

KUCING YANG DIIKAT
Seekor kucing yang hidup dalam biara tiap petang selalu bergaduh yang mengganggu meditasi seorang Guru spiritual dan murid-muridnya. Sang Guru memerintahkan agar kucing itu diikat saja selama latihan berlangsung. Bertahun-tahun kemudian, sang guru wafat, tapi si kucing tetap diikat sepanjang meditasi sore. Suatu hari kucing itu akhirnya mati juga, lalu didatangkanlah seekor kucing baru ke biara untuk diikat selama latihan petang. Demikianlah ritus berlangsung dari masa ke masa. Berabad-abad berikutnya, para murid dari garis perguruan sang Guru spiritual menulis ayat-ayat tentang arti relijius dari diikatnya seekor kucing dalam latihan meditasi.

SERIGALA DAN ANAK DOMBA
Seekor Serigala bertemu seekor Anak Domba yang tersesat dan terpisah dari kawanannya. Sang Serigala terbit air liurnya dan mendekati Si Anak Domba yang mengkeret ketakutan. Sang Serigala yang tak ingin disebut brutal, kemudian berusaha mencari pembenaran atas keinginannya memakan Si Anak Domba. Anak Domba menghiba "Tuan Serigala yang gagah, janganlah makan aku. Aku tiada salah padamu." Serigala menjawab, "Aku akan memakanmu karena tahun lalu kamu menghina aku." "Tidak, tuan. Setahun yang lalu aku belum lahir," jawab Si Anak Domba dengan suara lemah. Kemudian Sang Serigala berkata,"Kamu telah merumput di padang rumputku." "Tidak aku belum pernah makan rumput," jawab Si Anak Domba.Serigala kemudian menghardik,"Kalau begitu kamulah yang telah minum air dari sumurku." Si Anak Domba membantah lagi dengan gemetar,"Tidak mungkin Tuan, aku belum pernah minum air, aku hanya minum susu emakku. Susu adalah makanan sekaligus minumanku." Serigala itu kemudian menerkam si Anak Domba dan sambil memakannya ia menggeram,"Toh aku akan tetap superior, walaupun kamu bisa menyanggah setiap perkataanku." Demikianlah seorang Tiran mencari dalih atas tiraninya.

TENTANG MISTER GOD
tulisan Anna gadis kecil berusia 9 tahun Jika kamu jalan-jalan, kamu lihat banyak hal dan kamu pikir banyak hal di kepalamu. Salah satunya adalah tentang pulang ke rumah. Lalu kamu pikir bahwa rumah itu jauh sekali dan semua pikiran ada dalam dirimu dan rumahmu diluar dirimu. Lantas, saat kamu pulang, semua pikiranmu hilang dari dirimu dan rumahmu masuk ke dalam dirimu, gitu. Kalo aku nggak sama Mami aku banyak pikiran, aku ingin pegang tangan Mami dan aku ingin cium Mami dan aku ingin belai Mami, tapi itu semua hanya di pikiran. Tapi kalo aku pulang,semua hilang dari pikiranku karena aku udah pulang. Dan kalau aku pulang, Mami masuk ke dalam diriku dan aku masuk ke dalam Mami. Kalau aku tak masuk ke dalam Mami, bagaimana aku bisa lihat diriku karena aku melihat ke arah yang salah. Jadi kalau aku sayang Mami aku masuk ke dalamnya dan dari matanya aku melihat diriku dan bagaimana Mami menyayangiku dan ini sangat manis dan menggetarkan. Jika ada yang sayang kamu mereka ijinkan kamu masuk ke dalam. Tapi jika mereka tidak sayang kamu, mereka nggak kasi ijin. Nah, MISTER GOD kayak itu juga. Ia ijinkan kamu masuk ke dalam dirinya dan melihat dirimu, tapi kamu harus kasi ijin MISTER GOD masuk ke dalam dirimu, karena ia ingin melihat keluar untuk melihat dirinya. Jadi, MISTER GOD suka bayangannya dan kalau ia tidak melihat melalui mata manusia, bagaimana ia tahu apa yang orang pikir tentang dirinya? Dan hanya dengan beginilah MISTER GOD bisa lihat dirinya. Jika kamu melihat ke cermin dan melihat bayangan dan kedipkan mata kananmu, bayanganmu kedipkan mata yang sebelah, tapi jika kamu lihat bayanganmu kedipkan mata kanannya maka kamu tahu itu bukan bayangan, tapi kamu. terjemahan redaksi Yogyatantra dariAnna’s Book compiled by Finn hal.41Collins Fount Paperback

KASIH IBU
Dahulu kala, di pegunungan Andes, Amerika, hiduplah dua suku yang secara turun temurun terlibat perang suku yakni Suku Dataran Tinggi dan Suku Dataran Rendah. Suatu hari secara tiba-tiba Suku Dataran Tinggi turun dari lereng-lerang pegunungan dan melakukan serangan kilat terhadap pemukiman suku dataran rendah. Setelahbertempur beberapa lama akhirnya suku dataran tinggi memutuskan untuk menarik pasukan dan mundur kembali ke perkampungan mereka. Akan tetapi sewaktu mundur seorang di antara mereka menculik seorang bayi dari anggota Suku Dataran Rendah. Mengetahui bahwa seorang ibu anggota sukunya kehilangan bayinya, kepala suku yang merasa bertanggungjawab atas warganya kemudian mengumpulkan beberapa prajurit terkuat dan terberani dari sukunya dengan misi untuk mendapatkan bayi tersebut kembali.Sesungguhnya walaupun Suku Dataran Rendah tahu bahwa Suku Dataran Tinggi tinggal di dataran tinggi Andes namun tak satupun di antara mereka yang pernah pergi ke atas sana karena jalanan menuju perkampungan Suku Dataran Tinggi sangat terjal serta curam dan mereka hanya mengenal jalan setapak yang mengarah ke perkampungan suku lawan mereka di kaki pegunungan. Jadi dapat dikatakan bahwa prajurit-prajurit terbaik suku tengah dikomando untuk menjalankan suatu "mission impossible." Walau demikian para prajurit ini dengan gagah berani dan memberanikan diri menerima tugas tersebut dan berangkat menuju kaki pegunungan. Mereka mengikuti jalan setapak yang bisa dilalui Suku Dataran Tinggi di kaki lereng, akan tetapi lama kelamaan jalan tersebut semakin terjal, licin, dan curam. Dalam kelelahan dan putus asa akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke pemukiman mereka. Namun alangkah kagetnya mereka ketika tiba-tiba muncul sesosok wanita yang dengan perlahan merayap turun dari lereng atas yang kemudian mereka kenali sebagai ibu dari suku mereka yang kehilangan bayi .Rupanya diam-diam sang ibu muda itu pergi ke atas dan memintaanaknya kepada Suku Dataran Tinggi. Tentunya siapa yang tega menolak permintaan seorang ibu yangmenginginkan anaknya kembali. Kini bayi itu tengah pulas di keranjang gendongan punggungnya. Melihat hal ini, dengan malu dan takjub salah seorang prajurit terpilih bertanya, "Bagaimana kamu bisa mencapai pemukiman mereka di atas sana, sedangkan kami yang laki-laki kuat tidak bisa mencapainya?" Ibu muda itu hanya mengangkat bahunya dan berkata,"Ia bukan anakmu!"

PEMOTONG BATU
Pada jaman dahulu, di sebuah kaki gunung, hiduplah seorang pemotong batu untuk bahan bangunan yang merasa tidak puas akan kehidupan dan statusnya di dunia. Suatu hari ia pergi ke kota dan melintasi rumah seorang saudagar kaya raya. "Betapa enaknya jadi orang berpunya, tinggal di rumah megah, berpengaruh dan tiada kurang suatu apa!", bathinnya. Ia merasa iri dan berharap bisa seperti saudagar itu. Alangkah kagetnya ia, entah kenapa tiba-tiba saja ia menjadi seorang saudagar hartawan, menikmati segala kemewahan, memiliki kekuasaan, serta diirikan oleh orang yang hidupnya kurang sejahtera. Suatu hari orang pejabat tinggi negeri yang ditandu dalam sebuah joli mewah melewati rumahnya diiringi oleh para prajurit. Setiap orang di sepanjang jalan bagaimanapun status ekonominya harus berhenti,minggir ke tepi jalan, dan membungkuk menghormat kepadanya."Betapa berkuasanya dia," pikirnya, "Aku ingin menjadi pejabat tinggi negara!"Terjadilah! Seketika ia menjadi seorang pejabat tinggi negara yang berkuasa, ditandu kemana -mana di atas joli diiringi oleh sepasukan prajurit, dihormati sekaligus ditakuti rakyat. Suatu hari di musim panas, ketika melakukan inspeksi keliling, sengat matahari telah membuatnya tidak merasa nyaman dan gerah. Disibakkannya tirai joli, sambil memandang matahari yang tampak gagah di langit, ia berkata, "Betapa hebatnya matahari, andai aku bisa jadi matahari"Lalu ia menjadi matahari, bersinar sepanjang masa, menyengat segala sesuatu dan setiap orang dengan teriknya, serta diumpat kala musim panas oleh petani yang bekerja di ladang. Tetapi sekali waktu segumpal awan hitam menghalanginya sehingga sinarnya tidak dapat mencapai bumi. "Betapa hebat awan hitam badai ini," pikirnya,"Aku berharap ingin jadi awan badai."Ia kemudian menjadi awan hitam, berarak kian kemari dari suatu tempat ke tempat lain dan dibenci oleh setiap orang. Namun suatu hari sebuah kekuatan besar telah membuatnya buyar. Angin. "Betapa kuatnya ia," bathinnya, "Semoga aku bisa jadi angin!" Seketika ia berubah menjadi angin, yang bisa mengangkat atap-atap rumah, mencerabut pohon-pohon dari akarnya, serta menimbulkan ombak besar yang meneggelamkan perahu-perahu di lautan. Ditakuti oleh apapun yang ada di bawahnya. Tapi suatu hari, sesuatu yang besar dan kuat mampu menghalangi kekuatannya betapupun kuat ia meniupnya. Sebuah batu karang yang membukit. "Betapa kuatnya ia,"serunya," betapa ingin aku menjadi karang." Ia kemudian berubah menjadi batu karang yang kuat. Tak bergeming dari tempatnya dari jaman ke jaman. Akan tetapi suatu hari, ia merasa ada sesuatu yang berubah pada dirinya, sebuah palu godam besar yang secara berirama dihantamkan pada sebuah pahat perlahan lahan telah melobangi permukannya yang keras, dan akhirnya memotong-motongnya bagian demi bagian. "Siapakah yang lebih kuat dari aku, sang karang?" herannya. Ia menengok jauh ke bawah dan melihat seorang pemotong batu.

JANJIAN DI KOTA SEMARA
Suatu pagi, di sebuah pasar kota Baghdad seorang pembantu setia yang diutus saudagarnya berbelanja beberapa keperluan melihat suatu sosok yang menggetarkan hatinya di tengah keramaian. Seseorang yang entah kenapa terlintas di pikirannya sebagai malaikat kematian. Tiba-tiba malaikat kematian itu menatap lekat ke arahnya dan melambaikan tangan. Melihat hal ini, orang ini tambah ketakutan, ia tidak jadi berbelanja dan lari sekencang mungkin ke rumah majikannya. Sampai di sana ia menceritakan kejadian ini pada sang juragan serta memohon-mohon agar sang juragan sudi meminjamkannya seekor kuda. "Dengan kuda itu saya akan pergi ke kota Samara yang jauh, sehingga malaikat itu tidak akan bisa mencari saya," lanjutnya. Sang majikan yang berhati mulia meluluskan permohonan abdinya dan meminjamkannya kuda terbaiknya. Dengan segera pelayan itu kemudian memacu sang kuda sekencang mungkin ke arah Samara. Karena penasaran, sang saudagar kemudian akhirnya pergi ke pasar juga. Di sana ia melihat sosok seperti seperti yang digambarkan pelayannya dan mendekatinya. "Apakah engkau malaikat kematian?," tanyanya. "Ya, benar. Ada apa?," sahut sang malaikat. "Pembantuku melihat engkau tadi dan ia begitu ketakutan karena engkau melambaikan tangan kepadanya. Kenapa engkau menakuti-nakuti dia?" tanya sang saudagar. Malaikat kematian menjawab,"Tidak, aku tidak menakut-nakutinya. Aku hanya kaget kenapa kita sudah bertemu di Baghdad, sebenarnya aku ada janji untuk menjemput dia di kota Samara nanti malam."

MAKANAN NASRUDIN
Sehari-harinya Mullah Nasrudin menyantap makanan yang layaknya dikonsumsi orang papa di negerinya berupa roti dan kacang keker (chickpeas). Tetangga sebelah rumahnya, tinggal di sebuah rumah gedung besar dan megah dan setiap hari menyantap hidangan yang lezat. Suatu hari tetangganya itu berkata pada Nasrudin, "Andai saja engkau belajar bagaimana menyenangkan hari Sultan dan mengabdi kepadanya seperti diriku, kamu tak perlu hidup dari roti dan kacang keker." Mullah Nasrudin menukas," Demikian pula halnya, jika kamu belajar makan roti dan kacang keker, maka kamu tidak perlu menjilat Sultan."

TABIAT ALAMI
Dua orang rahib sedang membersihkan mangkok mereka di sungai, ketika mereka melihat seekor kalajengking tenggelam. Seorang rahib menciduknya dari air dan meletakkannya di pinggir kali. Ketika melakukan proses tersebut, ia disengat. Ia kembali mencuci mangkoknya; lagi-lagi sang kalajengking jatuh ke air. Sang rahib menolongnya lagi dan ia disengat sekali lagi. Rahib yang satunya bertanya kepadanya,"Teman, kenapa kau tolong terus kalajengking itu, padahal kau tahu tabiat alaminya suka menyengat?" "Karena," jawab sang rahib,"suka menolong adalah tabiat alamiku."

SANG KODOK
Suatu hari sekelompok kodok jalan-jalan di kebun, dua di antaranya jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam. Para kodok berkeliling di sekitar lobang. Tapi begitu melihat betapa dalamnya lobang itu, mereka berpikir pastilah kedua teman mereka yang malang tidak akan mampu meloncat naik. Dua ekor kodok dalam lobang sekuat tenaga berusaha melompat naik. Tapi berkali-kali usaha mereka gagal, hingga mereka kelelahan. Teman-teman mereka antara putus asa dan kasihan lalu berteriak menyuruh mereka untuk berhenti meloncat, menyerah saja. Dua ekor kodok itu tak menghiraukan saran teman mereka dan terus mencoba naik. Lagi-lagi teman mereka menyuruh berhenti, karena sia-sia mengerahkan tenaga, toh akhirnya akan mati juga, hanya menambah derita. Mereka terus meloncat. Namun yang satu akhirnya mengiakan kata-kata temannya. Menyerah, jatuh, dan mati. Yang satu terus meloncat sekuat tenaga. Para kodok lalu berteriak teriak semakin riuh untuk menghentikannya dan menerima takdir. Kodok dalam lubang semakin meloncat keras, akhirnya ia sekali waktu bisa melompat naik. Sesampai di atas, kodok-kodok bertanya kepadanya, "Kenapa kamu terus naik, padahal kami suruh berhenti?" Kodok itu kemudian menjelaskan bahwa ia agak tuli, ketika tadi teman- temannya berteriak-teriak, dikiranya mereka tengah menyemangatinya. -from an old story-

APHRODITE DAN KUCING
Cerita dari Yunani Seorang lelaki muda memelihara seekor kucing muda, yang kebetulan betina, dengan baik dan penuh kasih sayang. Ia rajin memandikan dan menyikat bulunya. Suatu hari ketika bermain-main dengan kucingnya itu, ia memuji-mujinya, "Kamu cantik sekali, coba kalau kamu manusia pastilah kamu gadis yang cantik. Dan aku akan memperistrimu" Dewi Aphrodite, dewi cinta, kebetulan lewat dan mendengar hal ini. Karena hatinya tersentuh, ia kemudian secara diam-diam mengubah kucing betina itu menjadi seorang wanita muda. Elok sungguh wajahnya. Sang dewi cinta lalu mengatur pertemuan si "gadis" dengan sang pemuda. Singkat cerita, sang pemuda yang tidak mengetahui perihal ini jatuh cinta kepada gadis cantik itu dan menikahinya. Tak terkira kebahagiaan pemuda itu. Namun pada malam pertama, seekor tikus gemuk melintas di dalam kamar. Dan seketika si pengantin wanita mengejar, menerkam, dan memakannya. Menyadari hal ini, Aphrodite bergumam, "Harusnya kubangun dulu jiwanya, baru raganya!"

SANG BUDHA DI RUMAHMU
Jaman dahulu kala, tersebutlah seorang pemuda bernama Yang Fu yang berpamitan kepada orang tuanya untuk pergi ke Sichuan. Ia berniat menemui Bodhisatva Wuji (yang secara harfiah berarti "tak terbatas" atau "tanpa ikatan/batasan"). Dalam perjalanan ia bertemu seorang rahib tua. "Anda pergi kemana?" tanya sang rahib. Yang Fu menjawab bahwa ia hendak menuntut ilmu kepada Bodhisatva Wuji "Mencari Bodhisatva tidak dapat dibandingkan dengan mencari sang Budha," saran sang pendeta tua. Yang Fu sependapat dengan hal ini, karena walau Bodhisatva Wuji seorang yang bijak bestari, sang Budha adalah model pencerahan yang absolut yang tiada duanya bagi pemeluknya.Yang Fu kemudain bertanya di manakah ia dapat menemukan Budha, dan rahib tua itu mengejutkannya dengan pernyataaan bahwa saat ini sang Budha saat ini berada di rumah yang baru saja ditinggalkannya -- rumah Yang Fu sendiri. Pemuda itu bertanya bagaimana ia bisa mengenali sang Budha. Dan sang rahib pun memiliki jawaban untuk hal ini:"Ketika pulang ke rumah, engkau akan melihat seorang yang memakai sandal terbalik datang menyambutmu. Ingatlah bahwa itulah sang Budha". Sesuatu yang berasal dari keyakinan teguh sang rahib tua membuat yang Fu percaya, dan ia buru-buru pulang. Ketika sampai di rumahnya, malam telah larut. Ibunya telah tertidur, akan tetapi ketika ia mendengar anaknya mengetuk pintu, ia terjaga dengan hati riang. Seperti semua orang tua, ia sungguh khawatir akan keselamatan anaknya dalam menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ia bergegas keluar untuk menyambutnya. Ia menyambar selimut dan bukan baju hangatnya, dan dalam kebahagiaannya ia sama sekali tidak sadar bahwa sandalnya dipakai terbalik. Yang Fu menatap wajah bundanya dan melihat kebahagiaan yang murni di wajahnya. Teringat akan kata-kata sang rahib, ia tercerahkan saat itu juga.

MENCABUT MATA
Berdasarkan informasi yang didapat tentang dirinya, Kalifah menunjuk Nasrudin menjadi Penasehat Agung Istana dan sejak itu ia tidak diperkenankan keluar dari wismanya tanpa sepengetahuan sang Kalifah. Nasrudin jadi "bete" karena harus menjawab berbagai pertanyaan yang dikonsultasikan kepadanya, seperti dalam kasus berikut ini: "Nasrudin, engkau orang yang berpengalaman", kata seorang bangsawan istana, "tahukah engkau obat sakit mata? Saya bertanya padamu karena saya sangat kesakitan. "Perkenankan saya membandingkan pengalaman saya dengan anda, "kata Nasrudin," suatu kali saya menderita sakit gigi, dan sakitnya baru hilang setelah giginya dicabut." disadur dari Sacarse el Ojo Dolorido,www.personarte.com/relatos

BUNGA GURUN
oleh Loki (seorang tabib Indian Sioux)
Kisah ini terjadi bermusim-musim panas yang lalu.Dahulu kala hiduplah setumbuh bunga muda di gurun pasir yang kering dan semuanya tampak muram...Ia tumbuh dengan sendirinya...menikmati hari demi hari dan bertanya kepada matahari, "Kapan aku tumbuh besar?" Dan Matahari menjawab,"Sabarlah! Engkau akan tumbuh sedikit demi sedikit, setiap aku menyentuhmu". Dan si bunga merasa sangat senang karena ia berkesempatan memberikan keindahan pada sudut gurun ini.Suatu hari seorang pemburu datang, dan menginjaknya. Ia sekarat dan merasa sedih. Bukan karena ia akan mati tapi karena ia tak sempat memberikan sedikit keindahan pada sudut gurun.Roh Agung melihatnya, dan mendengar ratapannya. Ia berkata, "Sebenarnyalah ia harus hidup!".. Dan Ia merengkuh dan menyentuhnya, memberinya kehidupan.Dan ia tumbuh sebagai bunga yang cantik...sehingga sudut gurun ini menjadi sangat indah karena keberadaannya. disadur dari Flower in the Desertwww.spiritual-endeavors.orgke indeks

BELUM MATI KOK !!
Kaisar bertanya kepada Gudo," Apa yang terjadi pada seorang manusiatercerahkan setelah kematian?""Bagaimana aku bisa tahu?" jawab Gudo"Karena kamu seorang guru," jawab Kaisar"Ya, benar paduka,"jawab Gudo, "tapi saya belum mati, kok!"

HANTU (DALAM PIKIRAN)
Menjelang kematiannya, seorang istri dari seorang lelaki berpesan, "Aku sangat cinta padamu! Tak ingin berpisah darimu. Kalau aku mati berjanjilah untuk tidak menikah lagi, jika tidak aku akan datang menghantuimu!".Sang lelaki hidup selibat selama beberapa tahun, namun ia kemudian jatuh cinta pada seorang wanita dan menjalin hubungan dengannya. Suatu malam menjelang pernikahan mereka, ia didatangi hantu mantan istrinya. Hantu itu memarahinya, menyalahkannya karena telah ingkar janji. Sejak itu malam demi malam, sang hantu terus mendatanginya. Ia bercerita tentang apa saja yang dilakukan lelaki itu dengan kekasihnya pada terang hari bahkan mengulangi kata demi kata percakapan mereka dengan tepat sehingga lelaki ini tak bisa tidur sama sekaliKarena tak tahan lagi, pria ini kemudian menemui seorang guru Zen yang tinggal di dekat desanya untuk minta nasihat. Setelah mendengar ceritanya sang pendeta berkata, "Hantu itu sangat pintar!" "Benar sekali!" jawab sang lelaki. " Ia maha tahu! Ia ingat dengan rinci segala yang kulakukan dan kukatakan." Sang guru berkata sambil tersenyum, "Mungkin kamu sangat kagum pada hantu itu, tapi aku akan kasi tahu apa yang harus kamu lakukan jika ia muncul lagi."Malamnya hantu itu mengunjunginya lagi. Lelaki itu kemudian mempraktekkan apa yang disarankan sang guru. "Aku tahu tak ada yang dapat kusembunyikan darimu. Kamu maha tahu, "kata sang lelaki "Tapi sekali ini aku ada pertanyaan. Jika kamu bisa jawab pertanyaan itu, aku akan membatalkan pernikahan dan menduda seumur hidupku." "Ayo, mana pertanyaaannya?" tantang sang hantu. Lelaki itu lalu dengan cepat meraup segenggam kacang dari sebuah karung besar di lantai kemudian bertanya lantang, "Katakan padaku dengan tepat berapa banyak kacang ditanganku ini?"Saat itu pula hantu itu menghilang dan tak pernah muncul lagi.

RAMAKRSNA DAN DOKTER
Menjelang akhir hayatnya, Ramakrsna, Guru Yoga terkemuka dan Guru dari Svami Vivekananda menderita kanker tenggorokan, dan harus menderita kesakitan yang amat sangat baik siang ataupun malam. Dokter mengunjunginya dan berkata, "Kami semua tahu kekuatan yang engkau miliki, kenapa engkau tidak menggunakannya untuk menyembuhkan dirimu sendiri?" Ramakrsna terkesima mendengarnya dan menjawab, "Maksud anda, setelah bertahun-tahun mengkonsentrasikan pikiran hanya untuk Tuhan, sekarang saya harus mengalihkan pikiran saya dari Yang Terkasih dan harus mengkonsentrasikannya pada tenggorokan saya?" disadur dariThe Spiritual Philosophy of Shrii Shrii Ananda MurtiA Commentary on Ananda Sutram, hlm.219Ananda Mitra AcaryaAnanda Marga Publications, Tiljala, Calcuttawww.anandamarga.or.idke indeks